KabarJakarta.com — Jakarta tercatat sebagai salah satu kota dengan kualitas udara terburuk di dunia berdasarkan data pemantauan dari situs IQAir pada Senin pagi. Pada pukul 05.00 WIB, Indeks Kualitas Udara (AQI) di Ibu Kota mencapai angka 140, yang masuk kategori “tidak sehat” khususnya bagi kelompok sensitif, dengan kadar partikel halus (PM2.5) yang cukup mengkhawatirkan.
Di tingkat global, posisi Jakarta menempati peringkat kelima, setelah Addis Ababa, Ethiopia yang menempati peringkat pertama dengan AQI sebesar 164. Disusul oleh Dhaka, Bangladesh dengan indeks 160, serta Kinshasa, Republik Demokratik Kongo dengan angka 156.
Menghadapi permasalahan polusi udara yang kian memburuk, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta berencana mengadopsi model pemantauan dan penanganan kualitas udara yang telah diterapkan oleh sejumlah kota besar dunia, seperti Paris dan Bangkok.
“Dari pengalaman kota-kota besar, Bangkok memiliki 1.000 stasiun pemantau kualitas udara (SPKU), sedangkan Paris memiliki 400 unit SPKU. Jakarta saat ini baru memiliki 111 unit, padahal sebelumnya hanya lima unit,” ujar Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, di Jakarta pada Selasa (18/3). Ia menegaskan bahwa penambahan jumlah SPKU ini menjadi kunci agar intervensi penanganan polusi bisa dilakukan secara cepat dan tepat sasaran.
Lebih lanjut, Asep menekankan pentingnya keterbukaan data sebagai langkah strategis dalam memperbaiki kualitas udara secara berkelanjutan. Menurutnya, penyebaran data polusi yang transparan akan memungkinkan pengambilan kebijakan yang lebih efektif dan responsif.
“Yang diperlukan bukan sekadar intervensi sesaat, melainkan langkah-langkah berkelanjutan dan luar biasa dalam mengatasi pencemaran udara,” tuturnya.
Dalam upaya meningkatkan cakupan dan ketepatan pemantauan, DLH DKI Jakarta menargetkan penambahan hingga 1.000 sensor kualitas udara berbiaya rendah (low-cost sensors). Sensor ini akan memperluas jaringan pengawasan kualitas udara sehingga penanganan polusi bisa dilakukan secara lebih komprehensif dan akurat.
Dengan langkah tersebut, diharapkan Jakarta dapat mengatasi permasalahan kualitas udara yang selama ini mengancam kesehatan masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.







