Satu Keluarga di Kalideres Tewas Karena Terdoktrin Sekte Kiamat?

Satu Keluarga di Kalideres Tewas Karena Terdoktrin Sekte Kiamat?
Lokasi rumah ditemukannya mayat satu keluarga di Kalideres, Jakarta Barat. (Foto: ANTARA)

KabarJakarta.com - Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala menganalisa kematian misterius satu keluarga di rumahnya di kawasan Kalideres, Jakarta Barat. Dia menyinggung tentang ‘Sekte Kiamat’.

Adrianus menenggarai, kematian empat orang anggota keluarga itu berkaitan dengan kepercayaan bahwa kiamat sudah dekat. Berikut uraian Adrianus Meliala:

Hasil dari autopsi

Analisis Adrianus Meliala berawal dari hasil autopsi sejumlah temuan penyidik di tempat kejadian perkara (TKP) dan keterangan sejumlah saksi.

Hasil autopsi pertama menyatakan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Selain itu, tidak ditemukan juga zat atau unsur racun pada organ dalam pada tubuh keempat korban.

Selanjutnya, tidak ditemukan sari makanan pada lambung para korban. Otot jasad pun telah menyusut.

Temuan tidak ditemukannya sari makanan pada lambung para korban sempat menggiring opini publik bahwa kematian mereka disebabkan oleh kelaparan. Secara pribadi Adrianus tidak mempercayai itu.

“Saya pribadi lebih memilih untuk tidak mempercayai konteks kelaparan itu,” kata Adrianus Meliala, Selasa (15/11).

Sebab, kata dia, setiap orang memiliki naluri bertahan hidup. Ketika seseorang merasa lapar dan haus, maka secara otomatis akan mengeluarkan daya dan upaya untuk mengakses makanan dan minuman.

Perilaku ini sejatinya menjadi perilaku dasar manusia. Bahkan, dalam kasus bunuh diri saja, seseorang memilih mengakhiri hidup secara cepat, bukan sengaja tak makan dan minum hingga akhirnya meninggal dunia.

“Nah, lain ceritanya kalau kelaparan itu memang disengaja,” lanjut Adrianus.

Didorong kepercayaan?

Sampai pada titik ini, analisis Adrianus bergerak maju satu langkah. Bila benar para korban sengaja melaparkan diri, artinya ada yang mendorong mereka untuk melakukan itu. Apa itu? Adrianus meyakini, hanya alasan spiritual lah yang mampu menggerakkan orang sampai memutus naluri bertahan hidupnya.

“Kalau memang benar, ada keyakinan yang luar biasa kuat, semacam keyakinan (dari para korban), mengenai dunia setelah mati, sehingga yang bersangkutan bersedia menuju ke arah itu untuk mencapai suatu kemuliaan,” ujar Adrianus.

Bagi orang yang sudah terpapar paham semacam itu, mereka menganggap apa yang terjadi di dunia ini, termasuk rasa sakit menahan lapar, adalah suatu cobaan sepadan untuk mencapai tujuan yang mereka yakini mulia.

“Kalau itu yang terjadi, maka tentu kelaparan menjadi oke-oke saja, bahkan meskipun berakhir dengan kematian,” lanjut dia.

Dugaan ini sejalan dengan berbagai temuan yang janggal. Mulai dari korban menjual kendaraan pribadi, korban tak kunjung membayar listrik, korban mengemas barang-barang sebelum meninggal, hingga gembok pagar yang rupanya terkunci dari dalam.

Kemudian, ditemukan kapur barus di sekitar jasad, ada lilin merah, bekas kotak bedak bayi yang begitu banyak, serta buku-buku berbagai macam agama.

Khusus soal kapur barus, penyidik menyebut, biasa digunakan untuk menyerap bau tak sedap. Dari berbagai temuan ini, seolah-olah korban sudah menyiapkan diri akan pergi untuk selama-lamanya.

“Oleh sebab itu, jangan-jangan ini kelompok kecil penganut suatu kepercayaan dengan konsep kiamat. Supaya mempersiapkan kiamat itu secara cepat, kemudian mematikan survival of instinc-nya dan menempuh cara yang menyakitkan, yakni mematikan diri,” ujar Adrianus.

Diketahui juga, hubungan keempat orang ini dengan keluarga besarnya masing-masing dan lingkungan sekitar juga sangat tertutup.

Dengan keluarga besarnya saja, komunikasi terakhir berlangsung sekitar lima tahun lalu, sementara pertemuan terakhirnya sekitar 20 tahun silam. Gejala ini, menurut Adrianus, juga ditemukan pada sebuah keluarga di India yang mengakhiri hidupnya atas alasan kiamat sudah dekat.

“Saya mau tarik ke kasus di India di mana sekitar 10 lebih orang mati bersama-sama. Ada yang melaparkan diri, ada yang gantung diri. Semuanya menganggap di luar sana adalah musuhnya. Di luar sana semua jahat, sehingga daripada mereka menjadi korban, mereka memilih mengakhiri hidupnya,” ucap Adrianus.

“Apakah bisa terjadi pada konteks empat orang ini? Kalau memang benar tindakan menarik diri (dari lingkungan sosial) itu bagian dari delusi, maka jangan-jangan itu bagian dari kesakitjiwaan yang berakhir dengan self destruction dengan cara bunuh diri,” sambungnnya.

Siapa aktornya?

Dalam konteks analisisnya ini, Adrianus membuka tiga pihak yang berpotensi menjadi aktor alias dalang di balik kematian satu keluarga itu. Pertama, ada orang kelima yang rutin dan intens berkomunikasi dengan keempat korban semasa hidup. Orang kelima inilah yang menyusupkan pemahaman bahwa kiamat sudah dekat.

“Ada orang lain di luar keempat korban yang secara sengaja memaksa keempatnya itu untuk lapar,” jelas Adrianus.

Kedua, keempat korban sama-sama memiliki pemahaman yang sama bahwa kematian adalah cara untuk menggapai kehidupan yang mulia. Artinya, pemahaman kiamat sudah dekat dianut oleh keempat orang itu.

Ketiga, ada satu atau dua orang di antara keempat korban yang menjadi role model. “Mungkin satu atau dua orang di antara korban memaksa yang lain untuk mati. Dengan kata lain, dia ini membuat orang lain lapar. Baru setelah yang dua itu mati, maka tinggal dia yang menunggu untuk mati,” paparnya.

Skenario ketiga ini adalah yang paling diyakini Adrianus. Pasalnya, berdasarkan hasil otopsi pertama, waktu kematian keempatnya berbeda-beda.

Sepasang suami istri, Rudyanto Gunawan dan Margaretha Gunawan disebut meninggal dunia lebih dahulu, yakni sekitar tiga pekan sebelum penemuan jasad. Sementara, anak keduanya, Dian Febbyana, dan ipar Rudyanto, Budyanto Gunawan, meninggal dunia sekitar dua pekan setelah penemuan.

Adapun, posisi masing-masing jasad saat ditemukan, yakni Rudyanto ditemukan dalam posisi tertidur di atas kasur di kamar belakang. Kemudian, Margaretha ditemukan di kamar depan dalam posisi tertidur di atas kasur. Di kamar yang sama juga ditemukan jasad Dian, tetapi letaknya di lantai.

Terakhir, Budyanto Gunawan ditemukan dalam posisi terlentang di sofa ruang tamu. “Jadi saya berpikir, ada yang mati duluan dan itu adalah orang yang dipaksa, baru kemudian yang lain mengikuti,” terangnya.

Namun demikian, Adrianus menekankan bahwa tiga skenario soal dalang ini sama-sama didorong oleh ide yang bersumber dari sosok, entah satu atau banyak. Bukan tidak mungkin ada sekte tertentu yang menaungi mereka.

Oleh sebab itu, bila analisis ini benar adanya, ia mendesak polisi menangkap sosok yang menyebarkan ide tersebut demi mencegah jatuhnya korban lain.

“Kalau melihat pengalaman-pengalaman kematian yang bersifat suicidal lainnya, memang ada kelompoknya, ada pemimpinnya, ada gurunya. Kalau benar demikian, polisi perlu mengejarnya sehingga mereka tidak bisa melenggang kangkung. Karena bisa terjadi lagi pada orang lain,” ujarnya.

Dia menekankan, bahwa analisisnya ini belum menjadi kebenaran. Sebab, polisi hingga saat ini masih menyelidiki penyebab di balik tewasnya satu keluarga itu.

Penjelasan Polisi

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Hengky Haryadi meminta publik tidak menyimpulkan terlalu cepat pada kasus kematian satu keluarga di Kalideres, Jakarta Barat ini.

“Kita tidak boleh mengambil kesimpulan yan premature. Harus komprehensif, dan kami dibantu oleh para ahli,” kata Hengky, Rabu (16/11).

Penyidik, lanjut Hengky, saat ini belum mengambil kesimpulan akhir terkait penyebab kematian empat anggota keluarga tersebut. Namun, penyidik telah memegang bukti dan petunjuk, mulai dari hasil autopsi empat jasad korban, barang-barang di tempat kejadian perkara, keterangan para saksi seperti tetangga, Ketua RT maupun Ketua RW, hinga keluarga korban.

Begitu juga dengan hasil penelusuran jejak digital pada ponsel milik masing-masing korban telah diketahui oleh penyidik.

Temuan-temuan tersebut, kata Hengky, nantinya dirangkai dan dicocokkan satu sama lain sehingga diharapkan dapat membuka tabur yang selama ini menyelimuti kasus ini.

“Jadi kami sifatnya berkesinambungan dengan penyelidikan di TKP. Kami cocokkan lagi kalau ada informasi baru, kita olah lagi,” jelas Hengky.

Adapun sejumlah ahli yang dilibatkan untuk mengungkap kasus kematian satu keluarga di Kalideres, Jakarta Barat ini adalah ahli di bidang medikal forensik kolegal, ahli di bidang patologi anatomi, ahli toksikologi, dan ahli DNA.

“Jadi kami mengedepankan scientific crime investigation, kemudian interkolaborasi profesi. Jadi saling mendukung untuk mengungkap ataupun membuat terang peristiwa ini,” ungkap Hengky.

Penulis : Ardiansyah

Editor : Zultamzil

Cek Fakta
CEK FAKTA LAINNYA