Alasan Pelat Kendaraan Bermotor Diganti Putih

Alasan Pelat Kendaraan Bermotor Diganti Putih
Ilustrasi (Foto: Net)

KabarJakarta.com - Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri telah memutuskan akan mengganti warna pelat nomor kendaraan atau Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNBK) yang sebelumnya berwarna dasar hitam diganti menjadi putih. Kasubdit STNK Direktorat Registrasi dan Identifikasi Korlantas Polri Kombes M Taslim Chairuddin mengatakan pelat putih diprioritaskan bagi kendaraan baru.

Sedangkan untuk kendaraan lama diharuskan mengganti dengan pelat putih apabila masa berlaku TNBK atau pajak 5 tahunan berakhir.

Taslim menyebutkan, material pelat nomor putih berbeda dan menggunakan spesifikasi yang baru.

“Nanti yang daftar baru datang ke kantor, yang membutuhkan TNKB. Pelat yang putih materialnya sudah menggunakan spesifikasi baru. Tentu akan kita berlakukan demikian juga saat perpanjangan STNK lima tahunan otomatis TNKB-nya habis masa berlakunya,” kata Taslim.

Lalu apa alasan digantinya warna pelat kendaraan tersebut? Salah satu alasan pelat nomor diganti menjadi putih karena kamera tilang elektronik (ETLE) masih sering keliru dalam menangkap gambar pelat nomor.

Pelat nomor dengan dasar warna putih tulisan hitam dengan mudah ditangkap kamera ETLE. Sehingga menjadi lebih mudah tepat sasaran.

Sebaliknya, karena sifat kamera menyerap warna hitam, maka pelat nomor dengan latar hitam tulisan putih yang ada saat ini sulit ditangkap kamera. Terkadang ada kesalahan seperti angka 5 dibaca huruf S, atau angka 1 dibaca huruf I.

“Itulah dasar kenapa warna TNKB itu berubah,” jelas Taslim.

Pendapat Pakar Kebijakan Publik

Menanggapi kebijakan ini, Pakar Kebijakan Publik Universitas Airlangga (Unair), Drs Gitadi Tegas Supramudyo MSi, mengatakan bahwa pelat berwarna putih adalah suatu kebutuhan.

Menurut dia, pergantian warna pelat nomor merupakan hal wajar jika ditinjau dari tujuannya.

“Karena pergantian warna pelat menjadi putih itu bertujuan untuk mempermudah identifikasi tilang elektronik atau Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE),” terangnya dikutip dari laman Unair.

Gitadi menyebut tujuan lain pergantian warna ini adalah terkait pemasangan chip sensor di gerbang Tol. Sehingga kendaraan tersebut nantinya masuk jalan Tol tanpa berhenti di gerbang, dan hal itu sudah menjadi tren global.

Berangkat dari tujuan tersebut, Gitadi menerangkan, bahwa pelat berwarna putih mengurangi solusi “denda damai” oleh oknum. Untuk itu tegaknya peraturan dan sanksi akan berjalan secara merata.

“Dengan catatan agar betul-betul pelat berwarna putih itu menggunakan teknologi canggih. Tidak sekedar mewarnai pelat nomor dengan cat putih,” ujarnya.

Meninjau dari ragam manfaatnya itu, maka pelat nomor berwarna putih dapat meningkatkan transparansi, terutama pada kasus-kasus pelanggaran lalu lintas.

Dia berharap dengan pelat putih ini penegakan denda dan sanksi lain bisa dijalankan secara merata dan jelas.

“Sanksi yang merata dan jelas terhadap pelanggaran lalu lintas akan meningkatkan kepatuhan masyarakat. Tertib di jalan raya juga akan meminimalisir terjadinya kecelakaan. Maka kemudian pelat nomor putih meningkatkan keselamatan masyarakat di jalan raya,” imbuhnya.

Pergantian Warna Butuh Sosialisasi Panjang

Meskipun bermanfaat, namun Drs Gitadi mengingatkan bahwa perubahan kebijakan warna pelat nomor tetap membutuhkan proses sosialisasi yang panjang, menyangkut adanya ketidakpastian di masyarakat.

Hal ini karena pelat nomor putih mulai berlaku bagi kendaraan baru dan yang habis masa berlaku lima tahunan. Sedangkan beberapa kendaraan masih menggunakan pelat berwarna hitam.

“Untuk itu proses transisi warna pelat membutuhkan sosialisasi yang panjang. Namun akan bisa lebih cepat jika seluruh pihak terkait saling bersinergi. Terlebih jika ada subsidi pengadaan pelat putih sehingga tidak menimbulkan beban biaya pada masyarakat,” saran Gitadi.

Sosialisasi yang panjang dan intens akan memperkecil dampak buruk dari masyarakat yang kontra akan kebijakan tersebut.

“Para penegak aturan harus menyuarakan juga manfaat dari pergantian pelat nomor untuk masyarakat terkait dengan kebijakan publik tersebut,” pungkas Gitadi.

Penulis : Ardiansyah

Editor : Zultamzil

Kabar Serupa :
Sopir Main HP Sambil Nyetir, Bus TransJakarta Oleng
Kabar Transportasi

Sopir Main HP Sambil Nyetir, Bus TransJakarta Oleng

01.12.2022 - 18:44
Cek Fakta
CEK FAKTA LAINNYA