News  

ISKI Siapkan Strategi Hadapi Ancaman AI dan Disinformasi

Ketua Umum ISKI Atwar Bajari menegaskan pentingnya penguatan literasi dan etika komunikasi di era AI. (Foto: Istimewa)

KabarJakarta.com – Derasnya arus informasi digital mengubah lanskap komunikasi nasional secara signifikan.

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut menghadirkan tantangan baru di masyarakat.

Ancaman tersebut meliputi manipulasi digital deepfake, bias algoritma, hingga disinformasi yang memicu krisis kepercayaan publik.

Situasi itu mendorong Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) menyusun Rencana Strategis (Renstra) 2026–2030.

Renstra itu menjadi arah baru organisasi dalam memperkuat ekosistem komunikasi Indonesia.

ISKI menetapkan empat karakter utama organisasi, yakni unggul, kolaboratif, adaptif, dan berpengaruh. Empat karakter tersebut menjadi fondasi penguatan posisi ISKI sebagai rumah besar sarjana komunikasi Indonesia.

Ketua Umum ISKI Atwar Bajari menegaskan organisasinya tidak boleh pasif menghadapi dinamika digital. Menurut dia, ISKI harus hadir menjaga kualitas komunikasi publik di Indonesia.

“Kami harus menjadi pelopor pemikiran komunikasi nasional yang berdampak langsung bagi masyarakat,” ujar Atwar melalui siaran persnya, Selasa, 26 Mei 2026.

Atwar mengatakan, tantangan komunikasi ke depan tidak hanya berkaitan dengan penyebaran informasi. Ia menilai persoalan integritas, etika, dan kepercayaan publik menjadi isu utama era digital.

Dalam Renstra 2026–2030, ISKI juga menyoroti momentum politik menuju Pemilu 2029.

Penggunaan AI untuk kepentingan kampanye politik dinilai berpotensi memicu penyebaran hoaks dan polarisasi sosial.

“Langkah preventif harus dipersiapkan jauh sebelum momentum politik berlangsung,” kata Atwar.

ISKI menargetkan agenda mitigasi krisis komunikasi mulai dijalankan sejak 2026. Selain itu, organisasi tersebut mendorong penguatan literasi publik menghadapi perkembangan teknologi digital.

Atwar menilai profesi komunikasi juga membutuhkan redefinisi kompetensi di era AI. Kemampuan literasi AI, komunikasi krisis, dan etika digital dinilai menjadi keterampilan penting bagi praktisi komunikasi.

ISKI juga ingin memperkuat perannya sebagai pusat gagasan komunikasi nasional. Upaya itu dilakukan melalui forum ilmiah, riset, publikasi, dan kolaborasi lintas sektor.

ISKI berharap strategi tersebut mampu membangun ekosistem komunikasi yang sehat dan etis.

Organisasi itu juga ingin menjaga kepercayaan publik di tengah percepatan transformasi digital. (*)

Exit mobile version