M. Nur Kholis Setiawan Ungkap Rahasia Kesehatan Spiritual: Mengapa Rasa Menyesal Itu Penting?

Melalui ulasan hikmah ke-51 dari Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari, M. Nur Kholis Setiawan memberikan peringatan serius mengenai tanda-tanda matinya hati manusia yang sering kali tidak disadari di tengah hiruk-pikuk dunia modern. (Youtube/ Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan Channel)

KabarJakarta.com – Dalam diskursus mengenai kesehatan mental dan spiritual, sering kali manusia diajarkan untuk melepaskan masa lalu dan menghindari perasaan negatif. Namun, dalam perspektif tasawuf yang disampaikan oleh M. Nur Kholis Setiawan, rasa menyesal justru memegang peranan krusial sebagai indikator apakah hati seseorang masih “hidup” atau sudah mulai “mati”.

Melalui ulasan hikmah ke-51 dari Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari, M. Nur Kholis Setiawan memberikan peringatan serius mengenai tanda-tanda matinya hati manusia yang sering kali tidak disadari di tengah hiruk-pikuk dunia modern.

Dua Indikator Utama Matinya Hati Manusia

Menurut paparan M. Nur Kholis Setiawan, terdapat dua indikator utama yang menunjukkan bahwa hati seseorang telah kehilangan sensitivitas spiritualnya. Indikator pertama adalah ketiadaan rasa sedih atau menyesal ketika sebuah kesempatan untuk berbuat baik terlewat begitu saja,. Dalam keseharian, banyak peluang untuk beramal, baik yang bersifat wajib maupun sunnah, yang sering kali diabaikan tanpa ada beban moral sedikit pun.

M. Nur Kholis Setiawan menekankan bahwa ketika seseorang merasa biasa saja saat kehilangan momen untuk mendekatkan diri kepada Allah, hal itu merupakan sinyal bahaya bagi kesehatan spiritual. Kondisi ini mencerminkan hilangnya guidance atau peringatan internal dalam diri manusia yang seharusnya mendorong untuk selalu berbuat baik,.

“Indikator yang pertama menurut Ibnu Atha’illah, hati itu dianggap mati atau dianggap tidak memiliki sensitivitas itu kalau seseorang itu tidak sama sekali memiliki penyesalan atau kesedihan atas kesempatan berbuat baik yang terlewat,” tegas M. Nur Kholis Setiawan.

Bahaya Tanpa Penyesalan Setelah Melakukan Kesalahan

Indikator kedua yang tidak kalah pentingnya adalah ketika seseorang tidak lagi merasa menyesal setelah melakukan kesalahan atau dosa. M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa sangat berbahaya jika seorang individu tetap merasa benar atau bahkan bangga setelah melakukan kekhilafan. Rasa menyesal setelah berbuat salah sebenarnya adalah mekanisme pertahanan spiritual yang memungkinkan manusia untuk segera melakukan perbaikan diri atau evaluasi melalui muhasabah,.

Tanpa adanya rasa menyesal, seseorang akan terus berkubang dalam kesalahan tanpa ada keinginan untuk berubah. M. Nur Kholis Setiawan mengingatkan bahwa ketidakmampuan untuk menyortir mana perbuatan yang mendatangkan dosa dan mana yang merupakan kebenaran adalah bentuk nyata dari kegelapan hati,.

“Jangan sampai kemudian kita tidak menyesal sama sekali terhadap lewatnya sebuah kesempatan kita berbuat baik… atau tidak adanya sebuah rasa menyesal yang begitu berat atau merasa berdosa atas kesalahan yang dilakukan,” ujar M. Nur Kholis Setiawan saat menjelaskan urgensi introspeksi.

Muhasabah Diri: Lebih Utama daripada Mencari Hal Gaib

Lebih lanjut, M. Nur Kholis Setiawan mengulas bahwa mencari-cari kelemahan atau aib dalam diri sendiri jauh lebih penting daripada ambisi manusia untuk melihat hal-hal gaib. Kesehatan spiritual terjaga bukan karena kemampuan supranatural, melainkan karena kejujuran dalam mengakui kekurangan diri sendiri,. Dengan menyadari setiap kesalahan dan merasa sedih saat gagal berbuat baik, seseorang akan terdorong untuk senantiasa memohon ampunan kepada Allah.

Mekanisme spiritual ini menciptakan keseimbangan hati. Ketika rasa sesal muncul atas kesalahan, dan kegembiraan hadir saat mampu berbuat baik, maka individu tersebut telah berhasil menghindarkan diri dari penyakit hati yang mematikan. M. Nur Kholis Setiawan menutup penjelasannya dengan menyatakan bahwa orang-orang yang senantiasa melakukan muhasabah dan memiliki rasa sesal yang tulus adalah mereka yang dicintai oleh Sang Pencipta.

“M. Nur Kholis Setiawan mengingatkan, ‘Kesungguhanmu untuk mencari hal-hal yang jelek dalam diri kamu yang banyak tertutupi itu jauh lebih baik daripada kesungguhanmu untuk mampu melihat hal-hal yang gaib,'” pungkasnya mengutip hikmah tasawuf yang mendalam,.

Melalui pemaparan ini, menjadi jelas bahwa dalam pandangan M. Nur Kholis Setiawan, rasa menyesal bukanlah sekadar emosi negatif, melainkan “alarm” spiritual yang memastikan hati tetap terjaga dalam jalur kebenaran dan kesucian.