Kamis, 20 Juni 2013
FEATURES :      Blog    • Kirim Artikel    • Komunitas SahabatKJ    • Galeri Foto    • Video
Kota Tua: Dulu Hingga Kini (I)
KabarWisata   Pay  |  Jumat, 13 Juli 2012 - 13:37:41 WIB  |  0 komentar
Share |

Sumber Foto : kompasiana.com

BERITA TERKAIT

 

KabarJakarta.com - Sebenarnya Jakarta sudah cukup punya modal untuk menjadi kota metropolis yang lengkap dengan segala budaya. Walaupun belum bisa dikatakan sepenuhnya mumpuni untuk menjelma sebagai kota metropolitan, tapi secara subjektif penilaian penulis, Jakarta punya semua bahan untuk menjelma menjadi Roma, Venesia, Tokyo, Amsterdam, Athena dan lainnya.
 
Kondisi geografis, budaya, dan pengalaman sejarah Jakarta cukup untuk menggambungkan seluruh kota di atas menjadi satu ciri khas. Terlebih lagi Jakarta yang pernah dijajah oleh bangsa Eropa dan Asia, menjadikannya unik dalam menyatukan sejarah tesebut.
 
Tercatat Portugis, Inggris, Belanda, dan Jepang pernah menduduki Batavia pada saat itu. Dan bukti peninggalan yang paling monumental bisa dinikmati saat ini adalah kawasan Kota Tua, Jakarta. Kota Tua ini pun dulunya peninggalan akumulasi dari seorang petinggi VOC Jan Pieterszoon Coen sekitar abad 17.
 
Kawasan kota tua ini sudah ditetapkan oleh Gubernur yang tertuang dalam SK Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 34/2006. Luas kawasan ini tercatat seluas 846 Ha, meliputi Pelabuhan Sunda Kelapa hingga Jalan Gadjah Mada termasuk dalam wilayah konservasi ini. 
 
Saat ini terdata sekitar 284 bangunan bersejarah yang terlingkupi dalam wilayah Kota Tua. Gedung-gedung tersebut terbagi menurut kewenangannya. Ada yang dibawah kewenangan Pemprov, ada juga dibawah kewenangan BUMD. Salah satu contoh, gedung Jasindo yang dimiliki BUMD. 
 
Gedung Standhuis yang sekarang lebih dikenal dengan museum Fatahillah dulunya merupakan pusat pemerintahan VOC. Kalau kita mau bernostalgia kembali dengan melihat peta-peta yang dibuat pada jaman Batavia dulu, maka akan kita temukan Gedung Standhuis ini dikelilingi oleh gedung-gedung berarstitektur Eropa. Gedung-gedung itu ada yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan, pertokoan, dan tempat peribadatan.
 
Tijgersgracht adalah nama tempo dulu dari yang sekarang dikenal sebagai Jalan Pos Kota dan Jalan Lada. De Binnen Nieuw Poortsraat yang sekarang lebih dikenal dengan Jalan Pintu Besar Utara. 
 
Perjalanan sejarah dari masing-masing gedungnya pun beragam. Mungkin bisa kita buka kembali memori kita dan buku-buku sejarah kita mengenai Museum Wayang. Siapa yang menyangka dulunya gedung ini bernama De Oude Hollandsche Kerk (Gereja Lama Belanda). Saat ini Gedung Wayang sudah berumur 371 tahun. Sekitar tahun 1732 gedung ini pun berganti nama De Nieuwe Hollandsche Kerk (Gereja Belanda Baru). Pernah mengalami renovasi saat Gempa pada 1808. Sempat dijual dan dijadikan kantor oleh Geo Wehry & Co, sebelum akhirnya dijual kepada lembaga ilmu pengetahuan. Dan akhirnya secara resmi menjadi milik kebudayaan Indonesia pada tahun 1975. (bersambung)
 
 
 
Share |
KabarWisata Lainnya