/**/
Kamis, 17 April 2014

Push, Pull & Pass Marketing Politik

Oleh Reiza_Patters pada April 8th, 2012

Marketing Politik adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memasarkan produk politik. Dalam memasarkan produk politik tersebut, dikenal 3 pendekatan strategi dalam kegiatan pemasaran produk politik ini. Nursal (dalam Firmanzah, 2007) mengatakan bahwa 3 pendekatan yang dapat dilakukan untuk mencari dan memperoleh dukungan politik atau memasarkan produk politik, yaitu:

  1. Push Marketing, dimana kandidat atau partai politik berusaha mendapatkan dukungan melalui stimulan yang diberikan secara langsung kepada pemilih.
  2. Pass Marketing, dimana pemasaran produk politik melalui orang atau kelompok berpengaruh yang mampu mempengaruhi opini pemilih.
  3. Pull Marketing, dimana pemasaran produk politik melalui media massa yang menitikberatkan pada image atau citra produk politik tersebut.

Secara lebih spesifik dan terkait dengan produk politik dalam marketing politik yaitu: kandidat, partai, dan kebijakan, dibutuhkan sinergi strategi yang optimal, penggunaannya dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan produk politiknya. Dalam produk kandidat perseorangan misalnya, penggunaan sinergi ketiga strategi harus imbang. Strategi push dibutuhkan untuk memperkecil jarak antara kandidat dengan calon pemilih. Strategi pull digunakan untuk membentuk kesadaran dan pengenalan publik terhadap kandidat sekaligus program-program yang diajukannya. Sementara strategi pass digunakan untuk memperoleh dukungan dari tokoh masyarakat untuk mobilisasi massa.

Dalam kasus produk partai, penekanan diberikan pada stragegi push dan pass untuk membentuk simpati antara kader dan partai melalui aktivitas yang sekaligus melibatkan partisipasi masyarakat. Sedangkan strategi pull yang dijalankan melalui media massa digunakan untuk membentuk pemahaman mengenai program-program partai dan ideologinya. Dalam hal ini strategi pass porsinya lebih kecil untuk menarik simpatisan bagi partai melalui tokoh tertentu.

Sedangkan dalam kasus produk kebijakan, penekanan penggunaan strategi diberikan pada strategi pull dan pass. Ini dikarenakan strategi push digunakan untuk sosialisasi secara langsung, tapi hasilnya tidak terlalu relevan, sedangkan strategi pull dapat secara komprehensif memenuhi prasyarat untuk mensosialisasikan kebijakan secara menyeluruh dengan jangkauan yang lebih luas ke masyarakat. Sedangkan pendekatan strategi pass dibutuhkan karena dapat berguna juga sebagai lobi kepada tokoh masyarakat untuk menggalang dukungan terhadap kebijakan yang diusung.

Seperti halnya dalam proses pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat yang baru saja selesai dilaksanakan. Ketiga calon ketua umum tersebut, sebetulnya melakukan 3 strategi yang dijelaskan diatas, hanya saja, tidak semua memandang ketiga strategi tersebut harus dilakukan secara berimbang. Dalam arti, titik tekan dan kepentingannya berbeda-beda. Andi Malarangeng misalnya, dia lebih menitikberatkan pada strategi Pull dan Pass Marketing.

Kita dapat melihat bagaimana Andi Malarangeng, dibantu oleh Lembaga konsultan FOX, sangat intensif dalam melakukan strategi Pull Marketing. Bagaimana tim sukses Andi Malarangeng fokus pada pemasangan iklan-iklan dan membangun image diluar arena kongres Demokrat. Hal ini dapat kita lihat pada iklan-iklan media televisi nasional yang sangat sering muncul dan juga baliho-baliho bergambar dirinya yang sangat besar terpampang di lokasi-lokasi strategis di Ibukota.

Hal lainnya adalah dia juga sedari awal menggunakan strategi Pass Marketing, dengan berusaha selalu menggandeng Edhy Baskoro (Ibas) dalam deklarasi pencalonan dirinya dan juga hampir setiap kesempatan berkampanye dan kegiatan-kegiatan partai. Andi Malarangen berkeyakinan bahwa dengan hadirnya Ibas, yang mungkin memang secara tidak langsung dukungan Presiden SBY kepada dirinya, bisa mendongkrak elektabilitasnya dimata para kader Partai Demokrat yang memiliki suara untuk memilih.

Dalam hal strategi Push Marketing, Andi Malarangeng tidak seintensif dua calonnya, yaitu Anas Urbaningrum dan Marzuki Alie. Di terlalu terfokus pada Dewan Pimpinan Pusat dan elit partai, sehingga tidak fokus pada DPC serta DPD, yang pada dasarnya adalah suara pemilih.

Sedangkan Anas Urbaningrum melakukan semuanya dengan porsi berimbang. Bagaimana Strategi Pull Marketing-nya tidak terlalu berlebihan sehingga bisa tetap menjaga citranya sebagai orang yang santun, lemah lembut dan bersih dari unsur Korupsi. Anas Urbaningrum sadar bahwa yang disasar sebenarnya hanya 531 suara pemilik suara di arena kongres partai demokrat itu, sehingga tidak jor-joran dalam melakukan perang iklan. Karena iklan bagi mereka hanya sekedar pelengkap semata dan sekaligus sebagai pembeda dengan kubu Andi Malarangeng, sehingga citra yang terbentuk adalah bahwa anas tidak menghambur-hamburkan uang yang bisa menimbulkan kecurigaan sumbernya darimana.

Kemudian dalam hal strategi Push Marketing, Anas Urbaningrum adalah seorang kader yang aktif sekali bersosialisasi dengan kader-kader daerah dan selalu membangun komunikasi dengan mereka, sehingga kedekatan Anas Urbaningrum kepada kader-kader didaerah bukan hanya dari sisi organisasi namun juga seperti memiliki ikatan emosional. Strategi Push Marketing ini juga dilakukan pada saat Kongres berlangsung. Bagaimana tim sukses Anas yang dikomandani Ahmad Mubarok juga terus aktif bergerak untuk mendulang dukungan, misalnya saat jeda pemilihan putaran pertama menuju putaran kedua.

Sosok Saan Mustofa, Angelina Sondakh, Ruhut Sitompul, dan lainnya tampak sibuk berkomunikasi secara langsung dengan para pimpinan DPC yang sebelumnya mendukung Andi. Di ruang makan seluas setengah lapangan bola yang tepat berada di belakang ruang sidang utama, para tokoh tim sukses Anas terus bergerak mendatangi setiap pimpinan DPC yang sudah di-list sebelumnya.

“Kalau data seperti itu pasti adalah, itu hasil komunikasi yang sudah lama kami lakukan. Saat kongres memang tinggal pemantapan saja,” ujar Mubarok saat dihubungi tadi malam (Jambi Ekspres Online, Rabu, 26 Mei 2010).

Sedangkan untuk Pass strategi, dengan lingkaran jaringan alumni HMI nya, Anas banyak didukung oleh tokoh-tokoh besar di dalam lingkungan Partai Demokrat ataupun di luar Partai Demokrat. Hal ini tentu saja juga menjadi pertimbangan para pemilih dalam menentukan pilihannya. Sebut saja seperti Saan Mustofa, Angelina Sondakh, Ruhut Sitompul, dan Ahmad Mubarok, sebagai tim sukses Anas Urbaningrum. Benny K. Harman, anggota Komisi III Fraksi Demokrat, yang sangat sering diundang menjadi narasumber pada acara-acara talkshow di Televisi nasioanl, juga menyatakan dengan jelas di beberapa televisi nasional dukungannya terhadap Anas Urbaningrum dan menjadi bagian dari Tim Sukses Anas tersebut.

Jadi dalam hal penerapan ketiga strategi tersebut, hal penting yang harus dilakukan adalah riset pasar politik. Sehingga dengan riset pasar politik tersebut, setiap kandidat dapat mengetahui positioning, branding dan juga diferensiasi yang perlu, penting dan dibutuhkan oleh para kandidat yang dapat membantu dalam mendapatkan kemenangan politik.

Referensi:

Dian Wahyudi, Di Balik Kemenangan Anas Urbaningrum pada Pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat, Jambi Ekspres Online, Rabu, 26 Mei 2010

http://www.jambiekspres.co.id/index.php/utama/12897-di-balik-kemenangan-anas-urbaningrum-pada-pemilihan-ketua-umum-partai-demokrat.html

Firmanzah, 2007, Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Log in