“Merdeka!” Sebuah kata yang bisa membuat bulu kuduk kita berdiri tegak, yang bisa membuat kita berlinang air mata, apalagi ketika dibarengi dengan mendengarkan lagu “Bagi Mu Negeri, Jiwa Raga, Kami”..
Sebuah kata yang bisa menggerakkan jiwa, untuk bangkit, melawan, segala macam hal yang di anggap sebagai sebuah penindasan. Kata “Merdeka” ini yang bisa menjadi sebab, bukan hanya maknanya. Karena seringkali orang tidak mengerti makna sebenarnya dari kata “Merdeka” ini, mereka hanya tahu bahwa kata “Merdeka” ini berarti bahwa kebebasan untuk merekA, sendiri.
Malah seringkali kebebasan itu melanggar kebebasan orang dan pihak lain, membuat hilang nyawa dengan paksa dan merenggut kehidupan layak orang lain. Ya, atas nama kebebasan dan “Kemerdekaan” tadi.
Aneh bin ajaib, ketika orang merenggut kebebasan dan kemerdekaan orang lain atas nama kebebasan dan “kemerdekaan”, yang salah siapa? Apakah memang kebebasan dan kemerdekaan mempunyai arti yang berbeda di pikiran manusia dengan manusia yang lain?
Yang lebih parah adalah jika penindasan, penghinaan, penyerangan, pembunuhan, di lakukan atas nama “Kebebasan” dan “Kemerdekaan” yang paling hakiki, agama dan Tuhan. Tidak akan terhentikan, karena semua pasti lah akan merasa yang paling berhak memiliki “Kebebasan” dan “Kemerdekaan” itu.
Namun, satu hal, lusuhnya kain bendera di halaman rumah kita, yang terpajang hanya satu minggu pada satu tahun sekali itu, bukan menjadi suatu alasan bagi kita untuk tidak mengerti tentang arti dan makna kata “Merdeka”, “Bebas”, “Kemerdekaan” dan “Kebebasan”.
Hal itu akan menjadi sangat ideal dan harmonis berada diantara setiap insan manusia, jika semuanya di rasakan, dimaknai, di ejawantahkan, di implementasikan, tidak lah menjadi sesuatu yang mubazir dan berlebihan. Melihat lagi kedalam hati dan berkaca pada Nurani.




