Ancaman di Balik Kemudahan *
Serba-Serbi
Fajar Kurnianto | Minggu, 08 April 2012 - 10:12:19 WIB | 0 komentar
Fajar Kurnianto | Minggu, 08 April 2012 - 10:12:19 WIB | 0 komentar
BERITA TERKAIT
KabarJakarta.com - Setiap media baru lahir secara alami orang akan terperangkap di dalam informasi konten yang dibawanya. ”Media listrik” abad 20—telepon, radio, film, televisi—akan mengakhiri tirani teks terhadap pikiran dan indera kita. Hilangnya pikiran linear adalah satu cirinya.
Diri kita yang terpisah dan terpecah, yang berabad-abad terkunci di dalam bacaan cetak partikelir, akan utuh kembali, menyatu ke dalam sebuah desa suku global. Ramalan itu sudah pernah ditulis pada tahun 1964 oleh Marshall McLuhan dalam bukunya Understanding Media: The Extensions of Man. Pendapat McLuhan memang masih diperdebatkan dan memberi pengaruh besar pada pemikiran tentang peran media.
Nicholas Carr adalah salah satu yang terpengaruh McLuhan. Ia menulis efek internet terhadap otak manusia yang kemudian mengubah cara berpikirnya dalam The Sh@llows ini. Bagi masyarakat dunia, internet adalah berkah dan salah satu penemuan terhebat. Namun, penemuan teknologi apa pun itu, tidak terkecuali internet, memiliki efek yang tidak selalu positif. McLuhan sudah meramalkan akan terjadi perubahan mendasar, terutama pada pikiran manusia, ketika media informasi—salah satunya internet—sudah memerangkap dan menguasai manusia, menguasai pikirannya.
Carr tidak main-main menyimpulkan bahwa internet mengubah cara berpikir penggunanya bahkan bisa mendangkalkannya. Beberapa bukti empiris dan penelitian tentang otak dia tunjukkan dalam buku ini. Misalnya, Carr menyebut seorang yang tadinya kutu buku dan pintar menulis, setelah asyik tenggelam dalam komputer dan internet cukup lama tiba-tiba merasakan perubahan drastis. Intensitasnya dalam membaca buku menurun. Demikian juga dengan konsentrasinya dalam berpikir dan menulis. Ia merasakan ada perubahan dalam otaknya. Carr pun lantas memaparkan perihal struktur otak manusia.
Selama ratusan tahun, sebagian besar ahli biologi dan ahli saraf tetap percaya bahwa struktur otak orang dewasa tidak pernah berubah. Neuron kita akan menyambung dengan sirkuit di masa anak-anak, saat otak kita masih lentur, dan ketika kita semakin dewasa sirkuit itu akan bersifat tetap. Menurut pandangan dominan itu, otak adalah sesuatu yang menyerupai struktur beton. Setelah dituangkan dan dibentuk ketika masih muda, otak cepat mengeras menjadi bentuk akhirnya (hlm 17). Namun, dalam penelitian-penelitian selanjutnya semakin terbukti bahwa struktur otak sesungguhnya lentur. Ahli biologi asal Inggris, JZ Young, pada kuliahnya yang disiarkan BBC tahun 1950 berpendapat bahwa struktur otak mungkin saja terus berubah menyesuaikan tugas apa yang dibebankan padanya.
Hasil-hasil penelitian selanjutnya, misalnya yang dilakukan Merzenich, peraih gelar doktor di bidang fisiologi dari Johns Hopkins, pada 1968, makin memperkuat pandangan tentang kelenturan otak. Menurut dia, otak tidak hanya lentur, bahkan teramat sangat lentur. Kelenturannya berkurang saat manusia bertambah tua—otak mandek dengan caranya sendiri—tetapi tidak pernah hilang. Neuron kita selalu memecah hubungan lama dan membentuk hubungan yang baru dan sel saraf yang benar-benar baru selalu tercipta. James Olds, profesor ilmu saraf di George Mason University, mengatakan bahwa otak memiliki kemampuan untuk memprogram ulang dirinya sendiri dengan cepat sehingga mengubah fungsinya (hlm 24).
Kelenturan otak membuatnya terpengaruh oleh apa pun, termasuk internet. Sejak internet ditemukan, yang dalam perkembangan berikutnya muncul mesin pencari (search engine), seperti Google, arus informasi dari banyak belahan dunia membanjir di depan kita ketika menghidupkan internet (online). Tidak hanya informasi yang tadinya verbal, tetapi juga nonverbal, seperti teks tercetak. Otak, di satu sisi, termanjakan dengan itu semua, tetapi di sisi lain membuat kemampuannya berpikir secara linear menurun. Carr menyebutkan hasil penelitian tentang orang yang membaca buku tercetak dan yang membaca buku di internet. Ternyata, membaca buku tercetak lebih fokus daripada buku di internet. Itu karena internet tidak hanya menghadirkan buku, tetapi juga yang lainnya melalui hyperlink informasi di sekitarnya, bahkan di dalam buku itu sendiri.
Bagi Carr, dengan mengombinasikan sejumlah informasi di satu layar, internet semakin memecah isi dan menyita perhatian kita. Satu halaman web mungkin mengandung beberapa potongan teks, video, atau audio yang dapat diputar, seperangkat peralatan navigasi, berbagai iklan, dan beberapa aplikasi perangkat lunak atau widget yang berjalan di layar kita. Kita semua tahu betapa mengganggunya rangsangan yang ramai ini. Penggunaan internet, kata Carr, melibatkan banyak paradoks. Namun, yang menjanjikan pengaruh jangka panjang terbesar terhadap cara berpikir kita adalah: internet merampas perhatian kita hanya untuk mencecerkannya (hlm 123). Perhatian pikiran terpecah dan otak yang dihadapkan dengan semua itu pun kehilangan fokus. Buku ini membuktikan dengan argumen yang sangat kuat. Internet memang memudahkan, tetapi di balik itu mengintai ancaman.
- Judul: The Sh@llows
- Penulis: Nicholas Carr
- Penerbit: Mizan, Bandung
- Cetakan: I, Juli 2011
- Tebal: xvi+280 halaman
- ISBN: 978-979-433-640-3
* Sumber, Harian kompas, Minggu, 8/4/2012
|
|
|
|
|
|






