Opini
Ini 12 Penyebab Kemacetan Di Jakarta!
oleh : Tomy Saleh - Senin, 10 Oktober 2011 - 14:48:55 WIB
Sumber foto :

KabarJakarta.com - Macet adalah pil pahit yang mau tidak mau harus ditelan oleh sebagian besar warga Jakarta. Dari tahun ke tahun kemacetan lalu lintas jalan di Jakarta, bukannya berkurang malah bertambah. Jika tahun 2009 berangkat dari rumah di Pondok Kopi, Jakarta Timur, pukul 07:00 (mempergunakan mobil), maka akan tiba di Kalibata, Jakarta Selatan, pukul 08:30. Tapi di tahun 2011, jika berangkat pukul 07:00, maka akan tiba pukul 09:30! Wajah cerah dari rumah, berubah lusuh tiba di kantor. Dulu kemacetan hanya terjadi dari hari Senin hingga Jum’at di jam-jam kantor, kini kemacetan nyaris terjadi setiap hari, kapan saja. Jakarta baru betul-betul bebas macet hanya pada pukul 12 malam hingga pukul 4 pagi! Selama belum ada solusi kemacetan yang hebat dari pembuat kebijakan, kita terpaksa “menikmati” situasi tersebut setiap hari. Berikut ini adalah sepuluh penyebab kemacetan di Jakarta.

1. Jalan rusak atau tidak mulus.
Jalanan yang berlubang-lubang dan bergelombang sangat rawan menyebabkan kecelakaan. Maka kendaraan yang melalui jalan seperti itu akan melambatkan lajunya. Akibatnya terjadi antrian kendaraan alias macet.

2. Jalan tergenang air atau ada banjir
Genangan air di jalan, entah karena luapan air sungai dan selokan (akibat tersumbat sampah), banjir rob, atau kebocoran pipa air, jika masuk ke mesin kendaraan bisa membuatnya mogok atau rusak. Menghadapi jalan seperti itu, laju kendaraan akan melambat atau bahkan stuck sama sekali (jika ketinggian genangan bisa menenggelamkan ban kendaraan). Dan kemacetanpun terjadi.

3. Ada pohon, tiang, atau baliho tumbang
Tumbangnya benda-benda di atas biasanya karena angin kencang. Untuk tiang dan baliho, bisa juga tumbang karena pondasinya yang kurang kokoh. Jika tumbangnya melintang di jalan, maka akan menyumbat dan menghambat arus lalu lintas jalan tersebut.

4. Ada pekerjaan umum
Pekerjaan umum di tepi jalanan Jakarta rasanya tidak pernah selesai. Setiap tahun selalu ada pekerjaan umum (biasanya berupa penggalian) di tepi jalan itu. Entah itu perbaikan kabel listrik, jaringan telepon, serat optik, pipa air, pipa gas, peremajaan selokan, peremajaan trotoar, pembuatan jalur busway, dan lain-lain. Tidak pernah ada habisnya. Selalu ada “alasan” untuk melakukan pekerjaan itu. Pekerjaan umum tersebut sering menyita seperempat, sepertiga, bahkan setengah badan jalan. Ini membuat bottle neck di jalan.

5. Kecelakaan
Kecelakaan di jalan raya akan menghentikan kendaraan yang celaka, baik di tengah jalan maupun di tepi jalan. Hal ini akan mempersempit jalan dan menghambar arus lalu lintas. Dan biasanya pula kemacetan terjadi karena kendaraan lain (selain yang celaka) berhenti sejenak karena pengemudinya ingin menyaksikan sisa peristiwa kecelakaan itu.

6. Kerusuhan atau tawuran
Kerusuhan atau tawuran yang terjadi di jalan akan menimbulkan resiko bahaya bagi pengendara kendaraan, baik kerusakan kendaraan maupun terluka secara fisik. Jika hal ini terjadi maka, pengendara lebih memilih menghentikan kendaraannya (dan menyebabkan antrian kendaraan) atau jika masih memungkinkan untuk berbalik arah mencari jalur alternatif (ini pun juga bisa menimbulkan kemacetan, karena jalur yang dijadikan laternatif akan menjadi padat).

7. Kendaraan umum berhenti sembarangan (ngetem)
Angkutan umum berhenti sembarangan biasanya untuk menurunkan penumpang, mengoper penumpang ke angkutan umum lain yang searah, mogok, atau menunggu penumpang. Ini memang sangat menjengkelkan. Seringkali mereka merasa benar dengan perbuatannya itu, padahal di belakang mereka ada antrian kendaraan. Tapi mereka seolah tak peduli. Kejar setoran adalah satu-satunya alasan utama mereka.

8. Lampu lalu lintas yang mati
Ketiadaan “wasit” yang mengatur arus lalu lintas di persimpangan, bisa menyebabkan kekacauan. Masing-masing pengendara merasa dirinyalah yang lebih berhak melaju lebih dulu melintasi sebuah persimpangan dibandingkan yang lain. Akibatnya terjadi kemacetan.

9. U turn
Di jalan dua arah yang dibatasi oleh separator semen, kadang kala suka ada separator yang dibuka untuk kendaraan yang ingin berputar balik arah. Di atas separatornya dipasang rambu U turn. Hal ini kerap menimbulkan kemacetan, karena kendaraan yang memutar balik seringkali tidak pas mengambil arah sudut memutar sehingga harus mundur dulu. Kendaraan lain dipaksanya untuk mengantri. Belum lagi jika arah yang hendak ditujunya itu sedang macet.

10. Ada pejabat penting sedang melintas
Tentara dan polisi kadangkala menyetop semua kendaraan yang melintas di jalan tertentu. Setelah lalu lintas lengang, barulah terdengar iring-iringan kendaraan presiden dan wapres melintas dengan kecepatan tinggi. Usai mereka lewat, blokade lalu lintas dibuka kembali. Selain presiden dan wapres, pejabat setingkat menteri juga sering melintas diiringi voorijder. Mereka meminta kendaraan lain untuk menyingkir dan memberi jalan.

11. Iring-iringan massa atau pawai atau demonstrasi
Massa dari ormas atau mahasiswa atau parpol juga kerap meramaikan jalanan Jakarta dengan aksi mereka. Entah berpawai atau berdemonstrasi. Kadangkala iring-iringan jenazah juga menyebabkan tersendatnya arus lalu lintas.

12. Ketidakdisiplinan pengemudi
Rasanya inilah penyebab paling signifikan dari kemacetan di jalanan Jakarta. Saling serobot, tidak mau mengalah, mengabaikan rambu lalu lintas, dan mengabaikan faktor safety di jalan adalah di antara bentuk ketidakdisiplinan itu. Semuanya berujung pada ketidaknyamanan bersama, yaitu macet.


Opini Lainnya
+ advertisement kabarjakarta
+ advertisement kabarjakarta